Tuesday, November 10, 2009

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian
Pasar modal memiliki peran besar bagi perekonomian suatu Negara karena pasar modal menjalankan 2 fungsi sekaligus, fungsi ekonomi dan keuangan. Pasar modal dikatakan memiliki fungsi ekonomi, karena pasar modal menyediakan fasilitas yang mempertemukan dua kepentingan yaitu pihak yang memiliki kelebihan dana (investor) dan pihak yang memerlukan dana (user) atau disebut juga emiten. Pasar modal dikatakan memiliki fungsi keuangan, karena pasar modal memberikan kemungkinan dan kesempatan memperoleh imbalan (return) bagi pemilik dana, sesuai dengan karakteristik investasi yang dipilih.
Pasar modal di suatu negara berperan penting bagi perkembangan ekonomi dan perdagangan. Pasar modal merupakan salah satu indikator utama dari perekonomian suatu negara. Artinya, pasar modal akan ikut menggambarkan bagaimana kondisi perekonomian suatu Negara.
Perusahaan swasta sebagai mitra pemerintah dalam pembangunan nasional mempunyai peran yang sangat besar dalam meningkatkan perekonomian nasional. Oleh karena itu, pemerintah selalu mendorong usaha perusahaan swasta nasional terlihat dari giatnya usaha pemerintah memberdayakan pasar modal sebagai salah satu alternatif sumber pembiayaan strategis bagi para pemodal. Dengan menginvestasikan dananya, pemodal mengharapkan akan memperoleh imbalan dari penyerahan dana tersebut. Sedangkan dari sisi peminjam, dengan tersedianya dana dari pihak luar memungkinkan mereka melakukan investasi untuk mengembangkan ekonomi perusahaan.
Investasi merupakan penanaman kelebihan dana yang dimiliki oleh perusahaan guna mendapatkan pengembalian (return) yang diharapkan pada masa yang akan datang, sehingga pada setiap kegiatan investasi selalu memiliki risiko Karena adanya ketidakpastian (uncertainty) artinya sangat sulit untuk menentukan secara tepat hasil investasinya akan dapat sesuai dengan return yang diharapkan.
Dalam pasar modal, partisipan pasar saling berinteraksi guna mewujudkan tujuannya membeli dan menjual sekuritas. Aktivitas yang mereka lakukan utamanya dipengaruhi oleh informasi yang diterima baik secara langsung (laporan publik) maupun tidak langsung (insider trading). Informasi yang dimiliki emiten seringkali dipasar modal merupakan suatu yang fundamental dan mempunyai peranan yang penting bagi investor atau pelaku pasar lainnya karena informasi menyajikan keterangan, gambaran suatu perusahaan baik yang menyangkut performa, prospek di masa yang akan datang. Hal ini akan membantu para pengambil keputusan dalam mengantisipasi kondisi yang berubah. Tetapi seringkali informasi yang dibutuhkan tidak dimiliki sepenuhnya oleh sebagian pelaku pasar sedangkan pelaku lainnya memiliki informasi yang lebih baik, Kondisi ini dinamakan asimetri informasi.
Asimetri informasi memiliki peranan yang penting khususnya bagi para investor yang menanamkan modalnya. Ketika kualitas informasi dari saham yang akan dibelinya buruk, maka masalah asimetri informasi akan mengemuka yang nantinya dapat menjadi sumber ketidakstabilan sistem keuangan dari investor.
Salah satu partisipan pasar modal adalah dealer atau market makers. Dealer berinteraksi dengan dua tipe pedagang saham, yaitu pedagang saham berinformasi (informed trader) dan pedagang saham dengan sedikit atau tanpa informasi (uninformed trader). Besarnya ketidakseimbangan informasi yang dihadapi dealer akan tercermin pada spread. Jika dealer melakukan transaksi dengan pedagang yang kurang terinformasi, biaya transaksi menjadi meningkat dan adanya asimetri informasi ini membawa pada bid-ask spread yang lebih besar. Karena untuk menutupi kerugian tersebut uninformed trader akan meningkatkan spreadnya sebab dealer/ market makers memiliki daya pikir yang terbatas terhadap persepsi masa yang akan datang, dengan menghadapi potensi kerugian ketika berhadapan dengan informed trader. Bid-ask spread adalah selisih harga beli tertinggi dengan harga jual terendah saham trader. Harga permintaan beli (bid price) atau penawaran jual (ask price) merupakan fungsi dari kos dan informasi yang dimilikinya.
Asimetri informasi yang meningkat mengindikasikan peningkatan kemungkinan berada pada posisi yang salah dalam perdagangan saham tersebut, sehingga pelaku pasar modal (investor) mengharapkan return yang lebih tinggi, untuk menutupi risiko rugi yang dihadapinya karena itu, untuk menjaga nilai pasar dari saham perusahaan di pasar modal besarnya Cost of equity capital dari sumber pendanaan saham biasa yang akan ditanggung oleh perusahaan (emiten) juga akan meningkat.
Cost of equity capital merupakan suatu ukuran tingkat pengembalian investasi yang dikehendaki untuk penanam modal/investor suatu perusahaan pada sumber pembiayaan (source of financing) yang berasal dari saham biasa (common stock). Besarnya tingkat pengembalian investasi yang dikehendaki investor dipengaruhi oleh seberapa besar perkiraan risiko atas investasi pada saham tersebut. Semakin tinggi tingkat risiko yang mungkin ada atas investasi tersebut, investor mengharapkan tingkat pengembalian investasi yang lebih tinggi, dan begitu pula sebaliknya.
Sedangkan dilain pihak, kewajiban manajemen perusahaan adalah untuk membuat keputusan investasi, operasi, dan pendanaan untuk membiayai operasi dan investasi perusahaan. Dalam melakukan kegiatannya, tujuan utama dari manajemen perusahaan adalah untuk memaksimalkan kesejahteraan dari pemilik atau pemegang saham dari perusahaan. Salah satu kriteria untuk melihat nilai dari perusahaan adalah pada nilai pasar perusahaan tersebut di pasar modal.
Perusahaan mempunyai kewajiban untuk memelihara dan meningkatkan nilai dari pemegang saham perusahaan yang tercermin pada nilai pasar saham tersebut di pasar modal. Semakin tinggi tingkat risiko yang dimiliki investor atas investasinya pada saham suatu perusahaan, tentunya ini mengakibatkan semakin besarnya cost of equity capital yang harus ditanggung perusahaan (emiten) untuk memenuhi harapan investor agar nilai dari pemegang saham yang tercermin pada nilai pasar saham dapat dijaga dan ditingkatkan. Karena itu, manajemen perushaan harus melakukan investasi yang menghasilkan tingkat penegembalian melebihi tingkat cost of equity capital agar dapat menjaga dan menigkatkan nilai dari pemegang saham.
Dari penelitian-penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Puput Trikomalasari dan Zaki Baridwan (JRAI Vol.4, No.1, Januari 2001) yang berjudul pengaruh pengungkapan informasi dan asimetri informasi terhadap cost of equity capital membuktikan bahwa semakin besar asimetri informasi diantara partisipan pasar, akan menghasilkan kos transaksi yang lebih tinggi dan likuiditas yang rendah, dan harga saham menurun sehingga cost of equity capital yang dipersyaratkan oleh investor meningkat.
Menyikapi hal tersebut peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian serupa mengenai pengaruh asimetri informasi terhadap Cost of Equity Capital, namun objek penelitian yang akan diambil kali ini adalah pada industri perbankan khususnya pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk karena, sebagai salah satu bank swasta milik pemerintah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memberikan kontribusi yang cukup besar bagi perekonomian Negara terutama dari sektor perbankan. Namun dari pengamatan yang dilakukan peneliti, PT Bank Mandiri Tbk pada beberapa tahun kebebelakang mengalami penurunan nilai perusahaan di Bursa hal ini dapat terlihat pada anjloknya nilai saham perusahaan sepanjang tahun 2008 dan mencapai 40,8% di akhir tahun, namun PER pada perusahaan semakin menurun dan dividen yang dibayarkan perusahaan semakin meningkat.




Tabel 1.1
Pertumbuhan EPS, PER, Dividend Payout PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. Tahun 2004-2008
Tahun EPS PER Dividend Payout (%)
2004 262 7.36 (x) 26.74
2005 30 ↓ 54.84 (x) ↑ 50,16 ↑
2006 118 ↑ 24.65 (x) ↓ 59,74 ↑
2007 210 ↑ 16.67 (x) ↓ 88,60 ↑
2008 254,13 ↑ 10 (x) ↓ 94,20 ↑
Sumber: Indonesian Capital Market Directory
Pada tahun 2008 harga saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk anjlok hingga 40,8% namun pada laporan keuangan yang dipublikasikan menggambarkan peningkatan dividen payout, yaitu dividen yang diberikan kepada investor dari kepemilikan saham biasa oleh perusahaan, padahal seharusnya dengan adanya peningkatan dividen payout perusahaan akan meningkatkan nilai perusahaan dilihat dari peningkatan harga pasar saham perusahaan karena peningkatan dividen payout akan meningkatkan minat investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan, selain itu penurunan PER pada perusahaan akan berbanding terbalik dengan peningkatan Cost of equity capital perusahaan.
PER menunjukan seberapa besar investor menilai harga (Price Valuation) saham terhadap kelipatan dari pendapatan (earnings) perusahaan selama tahun historis sebelumnya. Dari hal-hal yang diungkapkan tersebut dapat memberikan gambaran bahwa terjadi perbedaan informasi yang diterima oleh investor perusahaan yang mengindikasikan adanya pengaruh terhadap cost of equity capital yang harus dipenuhi oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk karena investor mengharapkan return yang lebih besar karena risiko yang akan dihadapi akan lebih besar.
Didasari oleh riset yang dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya, penelitian ini merupakan replikasi yang bertujuan untuk memberikan bukti empiris mengenai asimetri informasi yang dicerminkan dengan bid-ask spread dan pengaruhnya terhadap cost of equity capital yang harus ditanggung oleh perusahaan. Berdasarkan hal-hal yang telah dikemukakan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul :
“PENGARUH ASIMETRI INFORMASI TERHADAP COST OF EQUITY CAPITAL PADA PT BANK MANDIRI (PERSERO) Tbk”

1.2 Identifikasi dan Rumusan Masalah
1.2.1 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah diuraikan, maka masalah yang timbul pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk adalah :
1. Penurunan Harga Pasar saham selama tahun 2008
2. Penurunan minat investasi investor pada saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
3. Adanya perbedaan informasi yang diterima oleh investor / Trader mengenai perusahaan
4. Cost of equity capital yang harus dipenuhi perusahaan meningkat


1.2.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana Asimetri Informasi yang dicerminkan oleh besarnya Spread pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk tahun 2004-2008.
2. Bagaimana Cost of Equity Capital pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk tahun 2004-2008.
3. Seberapa besar pengaruh Asimetri Informasi terhadap Cost of Equity Capital pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk tahun 2004-2008.

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
1.3.1 Maksud Penelitian
Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengumpulkan, mengolah, menganalisis, serta menginterpretasikan data yang nantinya akan digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Asimetri Informasi terhadap Cost of Equity Capital pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk tahun 2004-2008.

1.3.2 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui Asimetri Informasi yang diicerminkan oleh besarnya spread pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk tahun 2004-2008.
2. Untuk mengetahui Cost of Equity Capital pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk tahun 2004-2008.
3. Untuk mengetahui besarnya pengaruh Asimetri Informasi terhadap Cost Of Equity Capital pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk tahun 2004-2008.

1.4 Kegunaan Penelitian
1.4.1 Kegunaan Akademis
a. Bagi Pengembang Ilmu Akuntansi
Diharapkan mampu dijadikan pertimbangan untuk membuat suatu pedoman mengenai perdagangan di pasar modal yang lebih akomodatif dan sesuai dengan kondisi di Indonesia.
b. Bagi Peneliti Lain
Sebagai bahan referensi bagi peneliti lain dalam mengkaji bidang yang sama mengenai pasar modal khususnya pada bidang kajian yang berkaitan dengan asimetri informasi dan cost of equity capital.
c. Bagi peneliti
Menambah ilmu pengetahuan baru dan sebagai uji kemampuan dalam menerapkan teori-teori yang diperoleh di perkuliahan terkait dengan mata kuliah Pasar Modal mengenai asimetri informasi dan cost of equity capital.




1.4.2 Kegunaan Praktis
a. Bagi Perusaahan
Memberikan informasi mengenai tingkat asimetri informasi yang terjadi dan cost of equity capital pada perusahaan sehingga dapat dijadikan dasar dalam menentukan suatu kebijakan dan pengambilan keputusan perusahaan.
b. Bagi BAPEPAM
Mendorong Bapepam untuk menerbitkan aturan-aturan mengenai pengungkapan informasi perusahaan serta lebih memperketat praktik penyampaian informasi oleh perusahaan kepada masyarakat.

1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian
1.5.1 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di Capital Market Center YPKP (Pojok BEI YPKP) yang terdapat di Jl. PH. Mustopa 68 Bandung 40124, Tlp. 022-7108257.

1.5.2 Waktu Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini, penulis membuat rencana jadwal penelitian yang dimulai dengan tahap persiapan sampai ke tahap akhir yaitu pelaporan hasil penelitian. Penelitian dimulai dari bulan Februari 2009. Secara lebih rinci waktu penelitian dapat dilihat pada tabel 1.2 dibawah ini :


Tabel 1.2
Tabel Waktu Penelitian


Tahap Prosedur
Bulan

Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst
I Tahap Persiapan:
1. Membuat outline dan proposal skripsi
2.Mengambil formulir penyusunan skripsi
3. Menentukan tempat penelitian
II Tahapan Pelaksanaan:
1.Mengajukan outline dan proposal skripsi
2.Meminta surat pengantar keperusahaan
3. Penelitian
4. Penyusunan skripsi
III Tahap Pelaporan:
1. Menyiapkan draft skripsi
2. sidang akhir skripsi
3. Penyempurnaan laporan skripsi
4. Penggandaan skripsi

Saturday, November 7, 2009

skripsi akuntansi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latarbelakang Penelitian
Dalam perkembangan dunia usaha yang pesat dan semakin kompetitif pada era globalisasi seperti sekarang ini, telah menuntut setiap perusahaan dan lembaga keuangan untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerja usahanya agar dapat tetap bertahan dalam menjalankan kegiatan usahanya. Di sisi lain, dengan adanya perkembangan dunia usaha yang pesat, maka pertumbuhan ekonomi meningkat. Namun pertumbuhan ekonomi yang tinggi tanpa diikuti dengan distribusi yang merata, akan menyebabkan ketimpangan sosial. Sebaliknya, pemerataan tanpa pertumbuhan juga tidak tepat, karena akan menghambat dinamika ekonomi dan menyebabkan kemiskinan. Faktor modal menjadi salah satu hal yang mengakibatkan sulitnya suatu perusahaan menjalankan kegiatan usahanya, untuk itu diperlukannya suatu wadah untuk mempertemukan antara pihak yang kelebihan dana dengan pihak yang kekurangan dana. Salah satu wadah tersebut adalah pasar modal.
Pasar modal adalah pasar yang memfasilitasi pertemuan antara pihak-pihak yang kelebihan dana dan yang kekurangan dana jangka panjang. Pasar modal memiliki 2 (dua) fungsi, yaitu fungsi ekonomi dan fungsi keuangan. Fungsi ekonomi yaitu berfungsi mempertemukan antara pihak yang kelebihan modal dengan pihak yang kekurangan modal, sedangkan fungsi keuangan yaitu mendapatkan keuntungan bagi yang kelebihan dana berupa deviden. Salah satu jenis investasi yang diperdagangkan dipasar modal adalah saham. Saham merupakan surat tanda bukti keikutsertaan dalam permodalan perusahaan dan mempunyai hak atas sebagian kekayaan perusahaan. Pasar modal merupakan wadah bagi terjadinya mekanisme transaksi perdagangan saham yang fair. Namun transaksi saham yang fair sulit tercapai karena adanya konflik kepentingan dan tidak transparannya laporan keuangan emiten.
Laporan keuangan merupakan hasil dari proses akuntansi yang bertujuan untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan (Ikatan Akuntan Indonesia, 2002). Pemakai informasi laporan keuangan diantaranya meliputi: investor, karyawan, pemberi pinjaman, dan pemasok. Investor berkepentingan dengan laporan keuangan dalam kaitannya dengan resiko yang melekat serta hasil pengembangan dari investasi yang mereka lakukan. Karyawan menggunakan laporan keuangan dalam kaitannya dengan informasi mengenai stabilitas dan profitabilitas perusahaan sehingga dapat diketahui seberapa besar kemampuan perusahaan dalam memberikan balas jasa, manfaat pensiun dan kesempatan kerja. Pemberi pinjaman dan pemasok berkepentingan dalam kaitannya dengan informasi tentang kemampuan perusahaan dalam membayarkan pinjaman serta bunganya pada waktu yang telah ditetapkan.
Laporan keuangan disampaikan dalam bentuk neraca, laporan kinerja disampaikan dalam bentuk laporan laba rugi, dan laporan perubahan posisi keuangan disampaikan dalam bentuk laporan perubahan ekuitas. Dari ketiga laporan ini, ditambah lagi laporan mengenai arus kas dari aktivitas operasi, investasi dan pendanaan dalam bentuk laporan arus kas, dan laporan informasi kualitatif perusahaan berupa catatan atas laporan keuangan. Dari ke lima bentuk laporan keuangan di atas, laporan mengenai laba rugi adalah laporan yang paling banyak diminati karena laporan laba rugi menyediakan informasi peningkatan atau penurunan kinerja keuangan suatu perusahaan. Secara definitif, laporan laba rugi adalah laporan utama untuk melaporkan kinerja dari suatu perusahaan selama suatu periode tertentu terutama tentang profitabilitas yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan tentang sumber ekonomi yang akan dikelola oleh suatu perusahaan di masa yang akan datang (Ikatan Akuntan Indonesia, 2002). Di samping itu, selain menginformasikan mengenai laporan kinerja, yang terpenting dari laporan laba rugi adalah laporan tentang laba.
Earnings atau laba merupakan komponen keuangan yang menjadi pusat perhatian sekaligus dasar pengambilan keputusan bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Dalam penyusunan laporan keuangan, dasar akrual dipilih karena lebih rasional dan adil dalam mencerminkan kondisi keuangan perusahaan secara riil, namun di sisi lain penggunaan dasar akrual dapat memberikan keleluasaan kepada pihak manajemen dalam memilih metode akuntansi selama tidak menyimpang dari aturan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku. Pilihan metode akuntansi yang secara sengaja dipilih oleh manajemen untuk tujuan tertentu dikenal dengan sebutan manajemen laba atau Earnings management.
Sampai saat ini manajemen laba merupakan area yang paling kontroversial dalam akuntansi keuangan. Pihak yang kontra terhadap manajemen laba seperti investor, berpendapat bahwa manajemen laba merupakan pengurangan keandalan informasi laporan keuangan sehingga dapat menyesatkan dalam pengambilan keputusan. Di sisi lain pihak yang pro terhadap manajemen laba seperti manajer, menganggap bahwa manajemen laba merupakan hal yang fleksibel untuk melindungi diri mereka dan perusahaan dalam mengantisipasi kejadian yang tidak terduga.
Banyaknya kasus mengenai manajemen laba yang terjadi baik di Indonesia maupun diluar negeri seperti kasus Kimia Farma Tbk dan PT Lippo Tbk kemudian kasus Enron, Wordcom, dan Xerox dimana mereka mengakui telah melakukan penggelembungan laba yang pada akhirnya membuat para investor melepaskan saham yang mereka miliki yang berakibat pada anjloknya harga saham perusahaan. Disini investor tidak banyak mengetahui tentang keadaan perusahaan yang membuat mereka dirugikan dengan informasi yang tidak relevan. Hal ini memberikan gambaran bahwa praktik manajemen laba sering terjadi diperusahaan guna menggambarkan kinerja perusahaan yang baik dengan menggunakan berbagai kesempatan yang ada. (Ludovicus Sensi W, 2007: 72)
Manajemen laba merupakan tindakan yang sering dilakukan oleh manajemen dengan motivasi untuk mencapai kepentingan sendiri, dengan kadar mulai dari sopan hingga yang termasuk ke dalam fraud. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi manajemen laba. Watt dan Zimmerman sebagaimana dikutip dalam Rahmawati et al. (2006) membagi motivasi manajemen laba menjadi tiga, yaitu bonus plan hypothesis, debt to equity hypothesis, dan political cost hypothesis. Hipotesis bonus plan menyatakan bahwa manajer pada perusahaan dengan bonus plan cenderung untuk menggunakan metode akuntansi yang akan meningkatkan income saat ini. Debt to equity hypothesis menyebutkan bahwa pada perusahaan yang mempunyai rasio debt to equity besar maka manajer perusahaan tersebut cenderung menggunakan metode akuntansi yang akan meningkatkan pendapatan maupun laba. Adapun political cost hypothesis menyatakan bahwa perusahaan yang besar, yang kegiatan operasinya menyentuh sebagian besar masyarakat akan cenderung untuk mengurangi laba yang dilaporkan.
Manajer sebagai pengelola perusahaan lebih banyak mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan pemilik dan investor. Oleh karena itu sebagai pengelola, manajer berkewajiban memberikan sinyal mengenai kondisi perusahaan baik kepada pemilik maupun investor. Sinyal yang diberikan dapat dilakukan melalui pengungkapan informasi akuntansi seperti laporan keuangan. Akan tetapi informasi yang disampaikan terkadang diterima tidak sesuai dengan kondisi perusahaan sebenarnya. Kondisi ini dikenal sebagai informasi yang tidak simetris atau asimetri informasi (information asymetric).
Asimetri informasi merupakan ketidakseimbangan informasi, hal ini muncul ketika manajer lebih mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan pemegang saham dan stakeholder lainnya. Adanya asimetri informasi akan mendorong manajer untuk menyajikan informasi yang tidak sebenarnya terutama jika informasi tersebut berkaitan dengan pengukuran kinerja manajer. Eisenhardt dalam Arief Ujiyantho (2007) mengemukakan tiga asumsi sifat dasar manusia yaitu: (1) manusia pada umunya mementingkan diri sendiri (self interest), (2) manusia memiliki daya pikir terbatas mengenai persepsi masa mendatang (bounded rationality), dan (3) manusia selalu menghindari resiko (risk adverse). Berdasarkan asumsi sifat dasar manusia tersebut menyebabkan bahwa informasi yang dihasilkan manusia untuk manusia lain selalu dipertanyakan reliabilitasnya dan dapat dipercaya tidaknya informasi yang disampaikan. Fleksibelitas manajemen dalam manajemen laba dapat dikurangi dengan menyediakan informasi yang lebih berkualitas bagi pihak luar. Kualitas laporan keuangan akan mencerminkan tingkat manajemen laba.
Beberapa peneliti terdahulu seperti Rahmawati dkk. (2006) telah menemukan bahwa asimetri informasi berpengaruh secara positif signifikan terhadap manajemen laba. Julia Halim, Carmel Meiden dan Rudolf Lumban tobing (2005) dengan judul penelitian “Pengaruh manajemen laba pada tingkat pengungkapan laporan keuangan pada perusahaan manufaktur yang termasuk dalam indeks LQ-45”, dengan menggunakan sampel 34 perusahaan, dari 2001 sampai 2002. Hasil penelitiannya bahwa perusahaan manufaktur yang termasuk Indeks LQ-45 terlihat melakukan tindakan manajemen laba. Asimetri informasi, kinerja masa kini dan masa depan, faktor leverage, ukuran perusahaan berpengaruh signifikan pada manajemen laba.
PT Bumi Resources Tbk dalam setiap menjalankan usahanya tentu saja memiliki tujuan yang mendasar yaitu mendapatkan keuntungan atau laba. Laba merupakan selisih antara pendapatan yang diperoleh suatu perusahaan pada suatu periode dengan beban-beban yang terjadi selama periode tersebut. Di era persaingan perekonomian yang semakin kompetitip ini, setiap perusahaan akan berusaha sekeras mungkin untuk memperoleh laba yang optimal demi terjaminnya kelangsungan perusahaan. Oleh sebab itu, manajemen perusahaan akan berusaha dan dituntut untuk lebih berupaya melaksanakan seluruh aktivitas perusahaan dengan se-efektif dan se-efisien mungkin agar tujuan perusahaan yang telah ditetapkan dapat tercapai dan dapat menarik minat investor untuk menanamkan modalnya.
Manajemen PT Bumi Resource Tbk sebagai pengelola perusahaan juga dalam melakukan kebijakan-kebijakan akuntansinya berusaha untuk memajukan perusahaan dalam pencapaian laba yang tentunya semakin tahun akan semakin bertambah sehingga baik kinerja manajemen atau perusahaan dapat dinilai baik. Laporan keuangan PT Bumi Resources Tbk selama lima tahun ini dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 1.1
Earning After Tax and Closing Price PT Bumi Resources Tbk.
Tahun 2003-2007 (Dalam jutaan rupiah)
Tahun Laba Bersih
(Earning After Tax) Harga Saham (Closing Price) Harga Saham Tertinggi Harga Saham Terendah
2003 107565 500 525 185
2004 1079520 800 825 725
2005 1222099 760 800 670
2006 2006299 890 900 790
2007 7431627 6000 6350 5500
Sumber : Data Laporan Keuangan PT Bumi Resources Tbk

Dari data laporan keuangan PT Bumi Resources Tbk. di atas kita dapat melihat bahwa laba perusahaan terjadi kenaikan dari setiap tahunnya yang memberikan indikasi bahwa kinerja perusahaan baik, akan tetapi terjadi ketidak seimbangan antara laba yang di dapat dibandingkan dengan harga saham yang ada. Dimana seharusnya laba yang tinggi dapat menaikkan harga saham begitupun sebaliknya saat laba perusahaan yang turun maka harga saham pun biasanya ikut turun. Ini terjadi pada tahun 2004 ke tahun 2005 dimana laba yang diperoleh dari 1.079.520 naik menjadi 1.222.099 tetapi harga saham malah turun dari 800 ke 760.
Adanya ketidakseimbangan tersebut memberikan asumsi bahwa telah terjadi praktik manajemen laba yang dilakukan manjemen dengan menggunakan pola Income Maximization untuk kepentingan diri sendiri maupun perusahaan dengan menggunakan asimetri informasi yang ada dengan melihat harga saham tertinggi dan harga terendahnya. Informasi yang lebih banyak yang dimiliki oleh manajer dibandingkan pihak lain menjadi pendorong dalam melakukan praktik manajemen laba.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk mengambil judul mengenai: “Pengaruh Asimetri Informasi terhadap Praktik Manajemen Laba (Studi Kasus pada PT Bumi Resources Tbk)”.




1.2 Identifikasi dan Rumusan Masalah
1.2.1 Identifikasi Masalah
Laba perusahaan yang setiap tahun meningkat yang tidak di-imbangi dengan harga saham yang meningkat pula memberikan gambaran bahwa masih terdapat asimetri informasi dalam perusahaan antara manajemen dengan investor. Adanya asimetri ini memberikan indikasi untuk manajemen melakukan praktik manajemen laba dalam pencapaian kinerjanya maupun dalam menarik investor untuk menanamkan modalnya.
1.2.2 Rumusan Masalah
Dalam usulan penelitian ini penulis merumuskan beberapa masalah yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana tingkat asimetri informasi pada PT Bumi Resources Tbk.
2. Bagaimana tingkat praktik manajemen laba pada PT Bumi Resources Tbk.
3. Seberapa besar pengaruh asimetri informasi terhadap praktik manajemen laba pada PT Bumi Resources Tbk.
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
1.3.1 Maksud Penelitian
Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengumpulkan data dan informasi, kemudian menganalisa data dan informasi yang berhubungan dengan pengaruh asimetri informasi terhadap praktik manajemen laba pada PT Bumi Resources Tbk.


1.3.2 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui tingkat asimetri informasi pada PT Bumi Resources Tbk.
2. Untuk mengetahui tingkat praktik manajemen laba pada PT Bumi Resources Tbk.
3. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh asimetri informasi terhadap praktik manajemen laba pada PT Bumi Resources Tbk.
1.4 Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.4.1 Kegunaan Akademis
• Bagi Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Memberikan referenasi tentang keterkaitan antar asimetri informasi dengan praktik manajemen laba.
• Bagi Peneliti Lain
Penelitian yang dilakukan ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan referensi dan tambahan informasi khususnya untuk pengkajian topik-topik yang berkaitan dengan penelitian yang dibahas.
• Bagi Peneliti
Dengan melakukan penelitian ini, penulis dapat memperoleh pengetahuan dan gambaran yang dapat dijadikan pembanding antara teori yang selama ini peneliti dapatkan dengan pelaksanaan yang sebenarnya di lapangan yaitu tentang asimetri informasi dan manajemen laba.
1.4.2 Kegunaan Praktis
• Bagi Perusahaan
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai salah satu informasi bagi perusahaan dalam mengambil langkah-langkah kebijakan yang akan dilakukan manajemen.
• Bagi Investor
Memberikan informasi mengenai adanya asimetri informasi yang dapat mendorong manajemen melakukan manajemen laba sehingga dapat merugikan pihak-pihak eksternal.
1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian
1.5.1 Lokasi Penelitian
Dalam penyusunan skripsi ini penulis melakukan penelitian pada PT Bumi Resource Tbk. yang terdaftar di BEI dengan mengambil data-data sekunder yang didapat melalui situs internet beralamatkan www.idx.co.id, melalui Capital Market Center (Pojok BEJ) yang terdapat di Gedung B, Universitas Sangga Buana (YPKP) Jl. PHH Mustopa no. 68 Bandung, serta melalui literatur-literatur yang ada.




1.5.2 Waktu Penelitian
Dalam melaksanakan penelitian ini, penulis membuat rencana jadwal penelitian yang dinilai dengan tahap persiapan sampai ketahap akhir, yaitu hasil laporan penelitian. Secara lebih rinci waktu penelitian dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 1.2
Waktu Penelitian

Bulan
Tahap Prosedur Maret April Mei Juni Juli
I Tahap Persiapan:
1. Membuat outline dan proposal skripsi
2. Mengambil formulir penyususnan skripsi
3. Menentukan tempat penelitian
II Tahapan Pelaksanaan:
1. Mengajukan outline dan proposal skripsi
2. Meminta surat pengantar keperusahaan
3. Penelitian
4. Seminar usulan penelitian
5. Penyusunan skripsi
III Tahap Pelaporan:
1. Menyiapkan draft skripsi
2. Sidang akhir skripsi
3. Penyempurnaan laporan skripsi
4. Penggandaan skripsi